Kenapa kau selalu tahu?

Setiap kali aku menghilang, kau selalu bisa menemukanku. Dulu waktu kecil—saat kita bermain petak umpet, dengan mudah kau bisa menangkapku yang bersembunyi di bawah tangga. Dan selanjutnya, aku tak pernah bisa menang saat bermain petak umpet kalau kau juga ada di sana. Kau akan selalu bisa menemukanku.

Atau waktu kita mencari kucing tetangga yang hilang. Saat itu aku jatuh di got sampai tidak bisa keluar, kau bisa menemukanku. Sama sekali tak terkecoh oleh plang tanda bahaya yang disusun para pekerja konstruksi di sekitar got itu, kau bahkan tak peduli pada para pekerja yang berteriak kesal padamu—dan kau mengulurkan tanganmu untuk membantuku.

Lain kesempatan, saat kita pergi ke perayaan bersama ayah dan ibumu. Setelah menangkapkan 3 ikan koi untukku—sementara aku menangkap 5 untukmu (hei, Shinichi, akui saja aku lebih jago dalam hal seperti ini), aku yang pergi untuk beli arumanis terpisah dan tersesat. Waktu itu aku benar-benar takut sampai tidak bisa menikmati acara kembang api. Tepat sebelum aku terisak, di bawah bunga sakura yang baru saja selesai digunakan untuk hanami—kau mencengkram obiku lalu menyodorkan kira-kira 10 ikan koi dalam kantung plastik dan berkata dengan sombongnya:

"Lihat. Aku menangkap lebih banyak dibanding kau, Ran."

Setelahnya kita melihat pohon sakura yang indah itu bersama-sama. Satu hal yang kutahu, kau selalu bisa menemukanku, Shinichi.

Sejak kehilanganmu, aku berusaha jadi orang yang bertindak sebagai seeker—pencari. Bukan selalu jadi pihak yang dicari. Aku mencarimu, tapi kau berkali-kali lebih pintar dibanding diriku, karenanya aku selalu berakhir kalah dalam game hide and seek ini. Petak umpet yang diciptakan takdir untuk kita.

… aku belum pernah menang. Kau dan takdir seakan berafiliasi untuk membuat permainan ini ratusan kali lebih sukar untukku.

Sering aku berakhir dengan airmata karena kesal.

Sebenarnya kau bersembunyi di mana?

Tak hanya kau yang jenius sebagai seeker dalam permainan petak umpet. Conan-kun juga jenius. Jadi jangan angkat dagumu terlalu tinggi sambil mengklaim dirimu yang terbaik.

Dia menemukanku saat aku hampir mati kehabisan nafas waktu ada pembunuhan di sebuah villa. Aku yang ditenggelamkan berhasil selamat karenanya. Saat aku diculik, dia yang membebaskan tali pembebatnya dan mengajakku lari. Dan tak seperti dirimu, dia bukanlah seeker yang sombong. Kata-katanya menghangatkan tubuh dan hatiku setiap satu kasus selesai—seolah menjanjikan bahwa aku tak harus jadi pihak yang dicari lagi.

Betapapun miripnya dia dengan dirimu, kalian tetaplah berbeda.

Dan obsesiku adalah untuk mencarimu, bukan mencarinya. Menemukan Conan-kun adalah pekerjaan yang susah, tapi mencari dirimu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.

Pada akhirnya akulah yang akan selalu dicari. Aku menyerah, Shinichi.

Kali ini aku mengharapkanmu datang dan menyelamatkanku. Kepalaku pusing. Aku tak bisa bergerak. Kalau mendengar suara-suara itu, sebentar lagi St. Aphrodite ini akan tenggelam.

Aku belum memberitahukan pada Grup Detektif Cilik bahwa aku sudah menemukan medalinya. Aku juga belum bertemu lagi denganmu. Aku enggan mati sekarang.

Tapi badanku tak mau kukomando.

"Shinichi… kau akan menemukanku, iya kan?" bahkan aku sendiri menyadari betapa lemah dan putus asanya bisikku. Memantul di dinding besi yang mengurungku.

Maka ketika seberkas sinar masuk, aku begitu lega. Kukira kau yang akan datang—sama seperti waktu kau menemukanku di bawah tangga saat dulu kita bermain petak umpet. Ternyata wajah Ayah… dan Conan-kun yang tersembul.

… ingat, jangan terlalu sering tersenyum sombong Shinichi. Memang benar bahwa kau dan takdir sudah membentuk tim petak umpet yang sempurna. Pandai lari dan melarikan diri. Pandai bersembunyi dan berbohong. Kau kira aku terima saja dibodohi? Sampai sekarang, ketika akhirnya kebenaran terungkap, ingin sekali aku berkata sombong padamu.

"Sekarang aku yang menemukanmu, Detektif, dan kau bersimbah darah. Menyedihkan sekali."

Tapi mulutku tak kuasa mengucapkannya. Lidahku segan melafalkannya. Hanya tangis yang kubiarkan bicara mewakili rasa kesalku. Kenapa selama ini kau harus berbohong?

"Ran…" suaramu membuyarkan lamunanku. Aku memandang wajahmu yang penuh torehan luka—serempetan peluru, darah yang memercik ke mana-mana. Mata birumu menyiratkan kepedihan dan rasa bertanggung jawab. "Kali ini, kau berhasil menemukanku."

Aku tak menyesal kenapa aku harus menemukanmu dalam keadaan begini—yang kusesalkan kenapa waktunya harus sekarang? Kenapa aku harus melihat bagaimana darah itu mengering perlahan sambil menunggu ambulans dan pihak kepolisian datang? Kenapa harus sekarang, setelah kau bertarung dengan organisasi itu, dan aku mendapati kau hampir sekarat? Kenapa harus kenyataan pahit yang bicara sewaktu akhirnya aku berhasil bertindak sebagai seeker?

Keadaan berubah, Shinichi. Ada saatnya mereka yang mencari menjadi mereka yang menemukan. Ada saatnya takdir mengkhianati perjanjiannya denganmu, dan aku akan jadi seeker dalam permainan ini.

Namun lihatlah. Indahnya akhir permainan ini.

Kau menemukanku di masa lalu.

Sementara aku menemukanmu di masa sekarang. Aku bersyukur betapa aku bisa bertahan di permainan ini dan tak terlambat ketika harus menemukanmu.

Akhir yang fair, iya kan?

"Kau masih melamunkan permainan petak umpet itu, yang kita mainkan hampir sepanjang hidup?" aku bisa merasakan bagaimana kau meletakkan dagumu di pundakku dan berbisik di telinga. Di belakang punggungmu ialah ruang makan yang bayangnya menarikku kembali ke kenyataan. Memutus ingatanku akan memori masa lalu. Permainan petak umpet yang kita mainkan selama hampir 20 tahun. Ya, perlu waktu sebegitu panjangnya sampai akhirnya the game is over. "Kenapa malam ini kita tak bermain saja?"

"Mou—" kudorong tubuhmu agar tak berlama-lama di sana. Makan malam takkan bisa cepat siap kalau kau terus-terusan mengganggu. "Jangan bercanda! Aku lelah bermain petak umpet terus!"

"Terserah kau sajalah—" Ups! Kau melingkarkan tanganmu di pinggangku, sementara aku dengan panik mencoba bertahan mengiris wortel.

Aku menyerah. Lagi. Tunduk di bawahmu, Meitantei-san. Tapi jangan pernah lupakan permainan itu dan hasil yang fair di akhir—kita seimbang. Pernah mencari dan dicari. Pernah menemukan dan ditemukan. Lalu jika kau bertanya mengapa semua itu bisa terjadi, aku akan dengan mudah menjawabnya.

Sebab hati dan cinta kita-lah yang akan menuntun.

Kau dan aku. Selamanya… di akhir petak umpet hasil kreasi Sang Takdir.

sumber
Read More …

Yo!

Ketika sedang asyik ngubek-ngubek onemanga.com, gw asik baca Yakitate!! Japan, eh DETECTIVE CONAN NONGOL!!! kenapa bs giitu ya?

Ini gambarnya!

Chapter :
THE REASON FOR BEING AWARDED THE SHOGAKUKAN AWARD MANGA


It's good, huh? Artinya, Conan emang terkenal!

SALUT AMA OM GOSHO! CONAN, MAJU TERUS!!

THE REASON FOR BEING AWARDED THE SHOGAKUKAN AWARD MANGA
Read More …

Malam.

Gue mau share sebuah fanfic keren buatan kaskuser dg ID , cekidot!


Remnants of the Past - Sisa Masa Lalu
Matahari bersinar terik siang itu, di SMU Teitan. Hari itu hari terakhir mereka sebelum liburan musim panas dimulai. Para guru, meskipun begitu, tetap bertekad memberikan pelajaran sampai bel berbunyi, mengabaikan keluh kesah murid. Ai Haibara memandang keluar melewati jendela kelasnya, pikirannya menerawang ke tempat lain…atau lebih tepatnya, ke waktu tertentu.

Sudah sepuluh tahun berlalu…semenjak hari itu, ya?

-Flashback-

“Conan!!” teriak Ayumi di sampingnya, histeris. Ia memeluk erat-erat gadis kecil itu, demikian juga Genta dan Mitsuhiko. Toh, hanya merekalah yang tersisa dari Grup Detektif Cilik.

Mereka mengamati kobaran api yang terjadi dari kejauhan. Kelak, surat kabar akan melaporkan bagaimana sebuah bekas pabrik minuman keras di pinggiran kota terbakar secara misterius, namun ia tahu yang sebenarnya. Tempat yang disebut-sebut ‘pabrik minuman’ tersebut, tidak lain dan tidak bukan, adalah jalan masuk utama, sekaligus laboratorium milik ‘Kelompok Berjubah Hitam’ – Ai tersenyum ironis, mengutip nama julukan yang dibuat oleh Conan untuk Organisasi.

Karena, Conan tidak kembali lagi dari peristiwa tersebut….

“Hei, di sini berbahaya, ayo pergi!” beberapa orang polisi datang mendekati anak-anak tersebut, hendak mengungsikan mereka ke tempat yang lebih aman. Ai mengenali kedua orang dari mereka. Miwako dan Takagi.

“Tidak!” Ayumi bersikeras, tangannya meremas tanah erat-erat. “Conan…”
Sebuah tangan hangat menggenggam tangan Ayumi, dan gadis kecil itu berbalik, melihat seorang pemuda berusia belasan tahun, dengan tatapan yang entah kenapa, terasa familiar.

“Conan pasti ingin kalian semua selamat.”

Ayumi akhirnya menurut, dan beranjak pergi ke arah mobil polisi, meskipun masih menangis. Dan dia bukan satu-satunya. Seorang gadis berambut hitam panjang, juga menangis menyaksikan kobaran api, dan bersandar di bahu pemuda tersebut.

“Ran, sudahlah...”

“Tapi, Shinichi!” Ran kehabisan kata-kata untuk menggambarkan perasaannya, kehilangan anak laki-laki yang sudah dia anggap adik sendiri. Shinichi sendiri tidak dapat mengatakan apa-apa, meskipun perasaan bersalah terpancar jelas dari wajahnya.

Ai Haibara sama sekali tidak menangis, tentu saja, namun ia mengamati kejadian itu dari kejauhan, dan menyadari betapa ironi mempermainkan mereka.

Hari itu, Conan Edogawa dinyatakan tewas dalam kebakaran. Hari yang sama, Shinichi Kudo muncul kembali ke muka publik, memberikan laporan lengkap mengenai kasus yang ia tangani, terkait Organisasi, kepada kepolisian Jepang dan FBI.
Tentu saja, hanya sedikit sekali orang yang mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

-End of Flashback-

“Ai, hei, Ai!” gadis berambut cokelat itu merasakan sikunya disodok oleh penggaris. Ia menoleh, dan melihat Mitsuhiko nyengir ke arahnya. Anak itu telah tumbuh pesat dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini. Raut mukanya tampak lebih lancip dan dewasa, namun gaya rambutnya masih sama seperti dulu, dan jerawat masih setia menghiasi kedua pipinya.

“Kau tahu kan ini hari apa? Aku sudah menghubungi Genta dan Ayumi, hari ini kita mengadakan peringatan seperti biasa.”

“Ah, ya.”

Terdengar bel berbunyi, dan murid-murid segera berdiri. Ai membutuhkan beberapa waktu untuk membereskan barang-barangnya. Ia agak terkejut, tapi senang, menyadari Mitsuhiko menunggunya di koridor ketika ia keluar.

“Kuperhatikan kau banyak melamun hari ini,” kata Mitsuhiko, ketika mereka berjalan menyusuri koridor. “Apa kau masih memikirkannya?”

“Tidak juga, sudah cukup lama…sudah sepuluh tahun kan? Tapi, seseorang yang berarti bagiku meninggal hari ini, aku hanya sedikit mengenangnya.” Ai berkata ringan.

“Begitu…” Mitsuhiko berkata menatap langit-langit. Mereka berpisah di gerbang sekolah.

“Ah, ada yang harus kukerjakan terlebih dahulu!” Mitsuhiko menatap jam tangannya, “kita berkumpul di rumah Ayumi kelak, ya!” pemuda itu berlari terlebih dahulu. Ai melambaikan tangan.

Ia berjalan sendiri lagi, menyusuri trotoar. Tanpa ada teman mengobrol di sampingnya, pikirannya kembali mengingat beberapa peristiwa lain malam itu, yang menuntun masa depannya menjadi seperti sekarang.

-Flashback-

“Ayah…Ibu…Kakak, semuanya sekarang sudah berakhir,” Ai berkata pada udara kosong, menatap langit cerah di atasnya. Ia sedang berada di balkon, tidak bisa tidur meskipun semua yang telah terjadi hari itu, toh dia juga tidak ingin tidur. Dengan musnahnya organisasi, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bebas, tenang, sama seperti orang-orang lain.

Momen itu terusik ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Shinichi berdiri di sana, bernapas terengah-engah, tampaknya ia baru saja berlari.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ai keheranan.

“Aku mencarimu, tahu! Dengar, aku tidak bisa lama, Ran pasti akan shock kalau aku mendadak hilang lagi, meskipun sebentar, dan kalau bisa, aku tidak ingin polisi mengetahui keberadaanmu di sini.”

“Keberadaanku diketahui polisi?” Ai menyipitkan matanya, meremehkan, “memangnya apa yang polisi akan lakukan padaku? Aku
hanyalah Ai Haibara, anak yatim piatu yang diangkat profesor Agasa, sama sekali tidak ada keterlibatan dengan Organisasi, kecuali sebagai korban mereka. Kecuali kau mau melaporkanku pada mereka, dan untuk itupun, kau tidak punya bukti. Semua obat yang mereka buat, usaha organisasi ‘melawan kematian’, percobaan mereka terhadap manusia, itupun sudah musnah dalam kebakaran beberapa jam yang lalu. Demikian juga dengan Conan Edogawa,” Ai menambahkan, tersenyum menyindir, “jadi apa yang kau- “

Kata-katanya terhenti saat Shinchi menyerahkan cairan berwarna perak kehijauan ke arahnya dalam botol kaca kecil. Matanya terbelalak.

“Itu…dari mana kau dapatkan?”

“Beruntung bagimu. Aku masih sempat menyimpan satu cadangan. Vermouth menghancurkan ratusan lainnya, sebelum dia tewas. Ini untukmu, Shiho Miyano.” Ujar Shinichi, memanggil Ai dengan nama aslinya.

Ai menerima botol tersebut. Pikiran-pikiran berkelebat dalam dirinya. Bagaimana Ayumi menangis karena kehilangan Conan. Bagaimana Genta dan Mitsuhiko juga tampak terpukul. Hari-hari normal yang mereka jalani bersama sebagai ‘Grup Detektif Cilik’. Lalu, kehidupannya di masa lalu. Bagaimana ia tidak pernah mengenal ibunya, bahkan ayahnya pun selalu bersikap dingin terhadapnya, meskipun ia tahu itu demi keselamatannya sendiri. Bagaimana kakaknya, selalu berusaha bersikap ceria di depannya namun diam-diam menjalankan misi rahasia untuk membebaskan dirinya dari Organisasi, dan akhirnya terbunuh. Bahkan sebagai anak kecil, takdirnya telah ditentukan oleh Organisasi saat mereka menyadari ia memiliki bakat yang tidak dimiliki kakaknya, dan ia tidak punya pilihan lain kecuali melayani Organisasi seumur hidup. Kemudian, sesudah meminum obat itu, ia bertemu Conan. Ia bertemu Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko, dan berkesempatan mengulang kembali, bagaimana rasanya menjadi anak-anak yang normal, tanpa ketakutan….

PRANG! Ai melemparkan botol tersebut keluar jendela, dan benda itu jatuh berkeping-keping di atas tanah. Shinichi memandangnya tidak percaya.

“Kau….”

“Conan Edogawa sudah mati hari ini, demikian juga Shiho Miyano. Yang tersisa adalah Shinichi Kudo dan Ai Haibara.” Gadis berambut cokelat itu tersenyum, ekspresinya penuh keyakinan.

Shinichi memandangnya, balas tersenyum, “jadi ini pilihanmu? Kalau begitu, selamat mengerjakan tugas-tugas anak SD.” Ia berkata sambil bercanda.

“Aku akan berusaha supaya tidak terlalu menonjol di kelas,” kata Ai. “Anak-anak itu sudah kehilangan kau, tahu, aku tidak akan membiarkan mereka kehilangan seorang lagi.”

“Kalau begitu, tolong jaga mereka. Mereka bisa menjadi detektif…suatu hari kelak.” Shinichi berpesan seraya melambaikan tangan dari balik pintu.

“Shinichi,” kata Ai untuk terakhir kalinya. Detektif tersebut menoleh.

“Kau dan Ran…semoga beruntung. Sampaikan salamku untuknya.”
Shinichi mengangguk, dan bergegas pergi. Ai kembali berjalan ke balkon, dan berkata menghadap langit.

Ayah…Ibu…Kakak…

“Maaf ya, aku tidak bisa memakai nama pemberian kalian. Tapi kali ini aku memiliki kesempatan kedua. Aku akan bisa memenuhi permintaan kalian, untuk hidup dengan baik…dan normal…Tapi aku takkan melupakan kalian. Terima kasih.”

Shiho Miyano, atau lebih tepatnya, Ai Haibara, mengelap bagian sudut matanya yang basah, sebelum kembali ke dalam kamarnya.

-End of flashback-

Tanpa terasa, gadis berambut cokelat tersebut telah tiba di depan rumah. Rumah bercat putih yang familiar. Dia tidak mengetok pintu tentu saja, toh dia tinggal sendiri di situ. Semenjak kematian Profesor Agasa beberapa tahun lalu, ia mendapatkan rumah tersebut. Rumah itu menyisakan banyak kenangan untuknya. Mobil van lama milik Profesor masih tersisa di garasi, meskipun tidak ada yang mengemudikannya, Ai tidak berminat menjualnya dalam waktu dekat. Dia baru hendak membuka pintu, ketika, terdengar seseorang meloncati pagarnya.

“Aduh!” teriak anak laki-laki kecil tersebut, tampaknya ia tidak mengira bahwa ia akan mendarat di atas semak-semak. Anak itu terperanjat melihat Ai, tidak menyangka akan tertangkap basah.

“Wah wah wah…Conan, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Ai pada anak berusia 7 tahun tersebut.

“Aku sedang bersembunyi, Kak, tolong sembunyikan aku-“

“Tolong tangkap dia!” terdengar suara seorang wanita berkata. Ai menoleh, dan menyaksikan Ran Kudo – seorang wanita berusia 27 tahun, ibu rumah tangga, sekaligus juga tetangga sebelah rumah. Anak laki-laki itu bersembunyi di balik badan Ai.

“Aku tidak mau, Ibu menyeramkan!” teriak anak bernama Conan tersebut. Ran, bagaimanapun, berhasil menangkapnya.

“Kau nakal sekali sih!” omel Ran pada anak tersebut, dan kemudian berpaling, meminta maaf pada Ai. “Maaf, anak ini mengganggu.”

“Tidak apa-apa,” kata Ai tersenyum, melihat anak dan ibu tersebut. Conan Kudo, demikian nama anak tersebut, anak tunggal dari pasangan Shinichi dan Ran, benar-benar mewarisi nama yang diberikan padanya. Wajahnya mirip dengan Shinichi sewaktu kecil, tentu saja, namun ia memiliki kelainan pada matanya yang menyebabkan ia harus selalu memakai kacamata. Entah apa yang ada di pikiran Shinchi saat memberinya nama, batin Ai dalam hati. Orang yang mengenali Conan Edogawa, sepuluh tahun yang lalu, semuanya berkata bahwa anak ini benar-benar menyerupai anak tersebut, seolah terlahir kembali.

“Ran! Conan! Kalian di sini?” terdengar suara pria bertanya. Dari balik pagar pembatas kedua rumah, kemudian, terlihat kepala Shinichi menyembul.

“Ayah!”

“Shinichi… bukannya kau ada pekerjaan?” tanya Ran.

“Oh, kasus itu kuserahkan pada polisi, hari ini aku memutuskan pulang cepat.” Ujar Shinichi. Penampilannya tidak berubah semenjak sepuluh tahun lalu, kecuali raut mukanya bertambah dewasa.

“Hari ini ada peringatan, kan?” Shinichi bertanya pada Ai, “kalian juga akan ke sana?”

“Yah, aku akan ke tempat Ayumi, rencananya,” Kata Ai, “kalau ingin pergi, lebih baik kita pergi bersama-sama saja.”

“Peringatan?” tanya Conan, tidak mengerti.

“Iya, kurasa sebaiknya kita ikut pergi, Conan juga ikut.” kata Ran, melupakan
kemarahannya pada anak tersebut.

“…?”Conan hanya kebingungan sendiri.

-xxx-
Di atas bus, sejam kemudian.

“Aku tidak menyangka kalian juga akan ikut,” kata Ayumi, kepada keluarga Kudo, “untunglah Ai mengajak kalian!”

Penampilan Ayumi telah berubah dalam sepuluh tahun terakhir ini. Ia memanjangkan rambutnya, dan mengikatnya di belakang seperti ekor kuda. Tubuhnya juga tampak lebih atletis, karena ia mengikuti estrakurikuler tenis di sekolahnya. Di sampingnya duduk Genta, yang juga teman sekelasnya. Genta tidak lagi gemuk seperti dulu, tubuhnya tetap besar, namun berotot, sebagai hasil dari kegiatan judo yang dia lakukan secara rutin.

“Apa boleh buat, bagiku Conan sudah seperti adik sendiri… meskipun, aku tidak bisa selalu memperingati peristiwa ini tiap tahun. Ia beruntung punya teman-teman seperti kalian.” Kata Ran.

“Eh, kakak,” tanya Conan kepada Genta yang duduk di sebelahnya, “kenapa mereka menyebut-nyebut namaku segala?”

“Oh iya, Conan belum tahu ya?” tanya Ayumi, mengelus kepala anak kecil tersebut, “kau itu diberi nama sesuai dengan teman kami, salah seorang anggota ‘Grup Detektif’.”

“Lalu?” tanya Conan polos, “di mana dia sekarang?”

Ayumi tidak menjawab pertanyaan tersebut, melainkan tersenyum,
pandangannya menerawang.

“Kita akan mengunjunginya…sekarang.”

Untuk anak seusianya, Conan tergolong anak yang cerdas. Ia mengambil
kesimpulan apa yang terjadi, dan tidak bertanya sepanjang perjalanan tersebut.

Di bagian belakang bus, Mitsuhiko duduk bersebelahan dengan Ai, yang memandang jendela dengan ekspresi bosan.

“Ayumi masih memikirkannya juga, ya…” ujarnya, memulai pembicaraan.

“Si bodoh itu,” kata Ai, pandangannya tidak beranjak dari jendela. Namun ia sengaja mengeraskan suaranya, karena ia tahu, Shinichi, yang hanya berjarak beberapa bangku dari mereka, pasti dapat mendengarnya, “mati begitu saja…tidak memikirkan orang-orang yang dia tinggalkan….”

“Hei…” Mitsuhiko menegurnya, “aku yakin, sebenarnya Conan juga tidak ingin meninggalkan kita, sesekali bersikap baiklah padanya, toh dia sudah mati.”

Kau tidak tahu yang sebenarnya kan, Mitsuhiko? Ai tidak berkata apa-apa.

-xxx-
“Jadi di sini?”

Mereka berada di tengah-tengah tempat terpencil di pinggiran kota. Untuk sampai ke sana, memakan waktu lima belas menit berjalan kaki dari pemberhentian bus terakhir.

Di sana, di tengah-tengah rerumputan yang berdiri liar, dan reruntuhan bekas pabrik, terdapat sebuah makam kecil bertuliskan ‘Conan Edogawa’.

“Benar. Kami selalu berkunjung ke sini setiap tahun.” Kata Ayumi, “dia teman kami, sangat pemberani, sangat cerdas… dia meninggal karena terlibat kasus. Dia sangat mirip denganmu…”

Ai memandang sekilas pada Ayumi, yang menceritakan kisah tersebut pada Conan. Genta dan Mitsuhiko bergantian memberi bunga, demikian juga Ran, yang berlama-lama di depan makam tersebut. Ia memandang ke arah Shinichi, yang sama seperti dirinya, memiliki alasan berbeda untuk berada di sini. Bagi Shinichi, hari ini mungkin hari bersejarah baginya, di mana ia berhasil menumpas Organisasi. Meskipun begitu, raut mukanya masih mencerminkan rasa bersalah setiap kali melihat makam tersebut, dan hal itu cukup membuat Ai puas. Dia sendiri memiliki alasan berbeda untuk berada di sini.

“Ng? Ai, kau mau ke mana?”

“Berjalan-jalan sebentar.” Ujar gadis berambut cokelat tersebut,” aku akan segera kembali.”

Ai berjalan mendekati reruntuhan pabrik tersebut, semakin jauh ke dalam.

“…seseorang yang berarti bagiku meninggal hari ini,” demikian kata-katanya pada Mitsuhiko, dan dia tidak berbohong.

-Flashback-
“Shuichi. Shuichi!” teriak Ai, menggoncangkan tubuh agen tersebut. Tubuh pria tersebut tergeletak di lantai, darah mengalir keluar darinya.

“Shiho. Cepat keluar, pabrik ini akan segera terbakar.” Kata pria tersebut pelan.

“Bagaimana denganmu?” tanya Shiho Miyano.

“Sudah terlambat. Gin berhasil mengenaiku, sisi baiknya, dia juga terbunuh. Di sekitar tempat ini, tidak ada rumah sakit…bahkan kalau aku berhasil keluar dari tempat ini, semuanya sudah terlambat.” Suara Shuichi melemah, dan ia memejamkan mata. “Lagipula, aku tidak punya penyesalan. Dendam kakakmu berhasil dibalaskan, kan?”

“Shuichi…” Shiho merasakan kata-katanya tertahan, ketika tangan pria itu mengusap rambutnya.

“Kau sama saja dengan kakakmu, mencemaskan orang lain. Dunia tidak adil, kalian berdua hanya menjadi korban… baik kau maupun kakakmu, seharusnya berhak mendapatkan kesempatan… kehidupan yang lebih baik. Aku tidak bisa menyelamatkannya… tapi dia pasti ingin kau selamat. Pergilah.”

Shiho menyaksikan untuk beberapa saat, dengan perasaan horor, ketika tubuh tangan Shuichi terkulai lemas, dan tubuhnya berhenti bergerak. Air mata mengaliri wajahnya. Dengan segera, ia bangkit berdiri, berlari menuju pintu keluar seperti yang diminta, tanpa sedikitpun berbalik ke belakang.

-End of Flashback-
“Jika bukan karenamu…aku tidak akan berada di sini sekarang. Terima kasih,”

Ai meletakkan sekuntum bunga di reruntuhan tersebut.
-xxx-
Langit sudah semakin senja, dan burung-burung beterbangan kembali ke sarang mereka masing-masing. Ai masih belum kembali.

“Ai lama sekali,” kata Ayumi, “bus terakhir akan berangkat tidak lama lagi, bagaimana kalau terlewat?”

“Akan kucari dia,” Mitsuhiko menawarkan diri. Sebelum teman-temannya sempat memprotes, ia sudah beranjak pergi terlebih dahulu, meskipun, dia tidak punya ide ke mana harus mencari gadis berambut cokelat tersebut.

Ai Haibara. Gadis itu selalu ‘menghilang’ setiap kali mereka melakukan kunjungan ke makam Conan, meskipun kembali tidak lama kemudian, tanpa memberitahu yang sebenarnya dia lakukan. Jika Ayumi atau Genta terkadang bertanya, ia selalu memberikan jawaban sekenanya. Mitsuhiko mengenalinya semenjak kecil, dan gadis itu selalu dipenuhi rahasia. Dia selalu tampak tenang, dewasa, dan misterius…

Kematian Conan pasti sangat mempengaruhinya, soalnya mereka berdua sama-sama terlibat kasus tersebut, pikir Mitsuhiko. Tidak seperti Ayumi yang terang-terangan tampak sedih, atau Genta yang marah… Ai tampak seolah tidak terpengaruh. Malah, semenjak kematian Conan, ia menjadi lebih terbuka, lebih riang terhadap mereka, seolah-olah membuat mereka melupakan peristiwa tersebut.

Kenapa dia selalu merahasiakan semuanya dari kami? Batin Mitsuhiko. Ia berjalan mendekati reruntuhan, dan pemandangan yang dia saksikan membuat ia melupakan semua pikirannya sebelumnya.

Gadis berambut cokelat itu berdiri di tengah-tengah reruntuhan, wajahnya menengadah menatap langit senja, rambutnya berkibar di tiup angin. Pemuda tersebut merasakan dadanya berdesir. Ai selalu terlihat seperti itu… Menjaga jarak dan sendiri, kesepian… dan hal itulah yang membuatnya sangat tertarik padanya. Dia kelihatannya butuh teman tempat berbagi, dan Mitsuhiko dengan senang hati bersedia melakukan itu untuknya.

Menyadari sedang diawasi, Ai menoleh tepat ke arah pemuda tersebut. Mitsuhiko salah tingkah, dia tidak bisa berpura-pura tidak berada di situ, meskipun ia yakin Ai tidak suka privasinya diganggu. Pada akhirnya ia hanya berseru.

“Ai! Kami mencarimu, sudah waktunya pulang!”

Gadis tersebut mengikutinya tanpa berkata sepatah kata, dan mereka berdua berjalan bersama menuju ke tempat semula.

“Ai,” tanya Mitsuhiko akhirnya,”sebenarnya, apa yang kau lakukan di sana?”

“Mengunjungi makam,” jawab Ai singkat, dan jujur. Mitsuhiko tidak bertanya lebih jauh.

Mereka akhirnya sampai ke tempat semula, di mana yang lain sudah menunggu. Perjalanan kembali ke terminal berlangsung singkat. Tanpa terasa, mereka sudah berada kembali di atas bus, dalam perjalanan pulang menuju ke rumah.

Ai melihat sekilas dari jendela, reruntuhan pabrik di kejauhan tampak mengecil, sebelum menghilang di kejauhan, tidak lebih dari sisa-sisa masa lalu yang dia tinggalkan, namun akan selalu tetap berada di sana…

Gadis itu memejamkan matanya, merasa damai, dan tertidur tidak lama kemudian. Kepalanya bersandar ke bahu seseorang di sebelahnya. Ayumi yang melihat pemadangan tersebut, tidak membuang kesempatan untuk memfoto mereka berdua.

Ai dan Mitsuhiko, tertidur di bagian belakang bus, kepala mereka saling bersandar satu sama lain.

Bus meluncur dengan tenang sepanjang perjalanan malam itu.

-END-
 
Bagus kan? Ending yg keren bgt!



 



Read More …

 Waktu gw baca salah satu blog tentang Jepang, ditulis mahasiswa Indonesia yg belajar di sana Semua Tentang Jepang , dipaparkan kalo dimata orang Jepang, Indonesia itu NGARET BGT. (yg harus gw akui, krn gw salah satunya. Pokoknya, bukan Indonesia kalo gak ngaret).

Kenapa gw ngebahas tentang terlambat??
Karena chapter ini 1 minggu terlambat dari waktu yang dijanjikan. Padahal mereka kan orang Jepang, huhuhu.

Daripada gw ngebacot lbh banyak, ini dia sinopsisnya!!
Kenangan VHS : indInspektur Shiratori n Opsir Chiba, pergi ke SD Teitan untuk menyerahkan video anti penculikkan ke Bu Kobayashi. Chiba, yang alumnus SD Teitan pun keliling sekolah untuk bernostagia.

Bu Kobayashi meminta bantuan Conan dkk untuk mencari video (or anything like that) lalu mereka ke ruangan audio. Disana mereka bertemu Chiba, yang ternyata mencari balasan surat cinta pertamanya (ihiy!)
Conan beranalisis, tapi analisisnya salah!

Solusi - Chapter 742

Kenapa bisa salah? Ada apa ini??? Baca aja sendiri, dengan banyak ekspresi dodol di chapter ini yg bikin ngakak. Versi indonya blm out, kalo nanti udah gw update.

Cekidot!

--------------

For Video! Check here!







or link
Part1
Part2
Part3

Check it out!
Read More …

Yoyoyo!



DC Character = MOURI KOGORO

Nama =
Romaji : Mouri Kogoro
Kanji : 毛利 小五郎
Umur = 37 tahun
Gol. darah = B
Pekerjaan = Detektif dodol
Alamat = Beika Street distrik 5
Menyukai = Wanita, uang, sake, judo
Tidak suka = repot, Eri (sebenernya suka tapi malu malu kambing), kucing
Warna favorit = Abu-abu
 
Kogoro Mouri adalah ayah dari Ran Mouri (post sebelumnya), seorang detektif swasta yang terkenal karena akhir akhir ini sering memecahkan kasus, walaupun sih  sebenernya Shinichi (Conan)-lah yang memecahkan kasus (pakai peluru bius, CIUT! analisis pun dimulai). Sebagai "om-om mesum" (itu kata2 wikipedia, wakakakak), Kogoro ahli dalam Judo sementara istrinya Kisaki Eri, adalah seorang pengacara yang sukses, gak kayak suaminya yang dodol bin ajaib. Kogoropisah dengan istrinya dan hidup berdua dengan anak perempuannya, Ran Mouri. Kogoro juga disebut pembawa sial (oleh kepolisian)/ kogoro tidur karena dimana ada dia selalu ada kasus dan dia selalu memecahkan masalah sambil tidur karena ditembak peluru bius oleh Conan.
Sebelum jadi detektif swasta, dia adalah seorang polisi yang handal (menurut Prof. Agasa) bawahan Inspektur Megure.  Lalu, ia dipecat karena telah membahayakan nyawa sandera, alias sang istri pada suatu kasus. Setelahnya Eri meninggalkannya karena diejek Kogoro (timpuk dia, kawan) dan menjadi detektif swasta dodol bin ajaib yang analisisnya suka ngawur. Tapi juga ada saat saat dimana ia cerdas sekali. Kelihatannya galak ama Conan, tapi aslinya sih dia gak mau kalo Conan terlibat bahaya n suka ngeliat mayat gitu.

Read More …

Dengan segala macam perubahan dan kemajuan blog ini, kami berterima kasih kepada para pembaca, karena kalau gak ada kalian blog ini hanyalah blog sampah. Arigatou Gozaimasu!



DC Character : MOURI RAN
Nama =
Romaji : Mouri Ran
Kanji : 毛利 蘭
Tanggal lahir = 10 Oktober
Umur = 17 tahun (dari thn '94 gak naik naik, heran dah)
Gol. darah = B
Sekolah = SMA Teitan
Alamat = Beika Street distrik 5
Menyukai = Karate, Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga,
Tidak suka = Shinichi selingkuh (ini info dr SDB!! bukan gw yang nulis)
Warna favorit = Merah
Orang tua = Mouri Kogoro (毛利 小五郎) dan Kisaki Eri (妃 英里)
Ran adalah teman sejak kecil Shinichi, bahkan terkadang disebut sebagai kekasihnya. Tapi mereka bilang sih nggak, dengan muka merah meheheh. Ketika tinggal di rumah Ran, Conan (Shinichi) sering dicurigai oleh Ran, bahwa Conan itu sebenarnya adalah Shinichi yang mengecil setelah meminum obat buatan Profesor Agasa karena terlibat dalam suatu kasus, meski setelah mencurigai, Ran selalu menarik rasa curiganya. Cita- cita Ran adalah menjadi ahli karate di seluruh Jepang. Ran memiliki sifat yang lembut, namun kadang-kadang juga memiliki sifat keras hati. Ia gampang menangis, apalagi bila sedang teringat akan Shinichi. Terkadang suka membayangkan hal-hal yang gak jelas seperti "Shinichi-bersama-wanita-lain" atau sejenisnya. 

PS : Ada isu yang mengatakan bahwa selama libur seminggu kemarin, om Gosho membawa Detektif Conan ke Interpol. Berikut pembicaraan Admin1 dg CarpetCrawlerDC
Carpet : So the rumors are that Gosho is finally bringing the Interpol to Detective Conan...        interesting.
admin1 : eeeh? seriously?
Carpet : Yep, that's apparently why he was out for a few weeks to "gather data". Of course, let's not forget that it's merely a rumor.

Benar atau tidak, kita hanya bs menunggu. Pertanyaan gw adalah : Buat apaan yak Om Gosho bawa bawa DC ke Interpol??
Read More …

Sabtu, 24 Juli 2010

Fanfic detective conan

Kenapa kau selalu tahu?

Setiap kali aku menghilang, kau selalu bisa menemukanku. Dulu waktu kecil—saat kita bermain petak umpet, dengan mudah kau bisa menangkapku yang bersembunyi di bawah tangga. Dan selanjutnya, aku tak pernah bisa menang saat bermain petak umpet kalau kau juga ada di sana. Kau akan selalu bisa menemukanku.

Atau waktu kita mencari kucing tetangga yang hilang. Saat itu aku jatuh di got sampai tidak bisa keluar, kau bisa menemukanku. Sama sekali tak terkecoh oleh plang tanda bahaya yang disusun para pekerja konstruksi di sekitar got itu, kau bahkan tak peduli pada para pekerja yang berteriak kesal padamu—dan kau mengulurkan tanganmu untuk membantuku.

Lain kesempatan, saat kita pergi ke perayaan bersama ayah dan ibumu. Setelah menangkapkan 3 ikan koi untukku—sementara aku menangkap 5 untukmu (hei, Shinichi, akui saja aku lebih jago dalam hal seperti ini), aku yang pergi untuk beli arumanis terpisah dan tersesat. Waktu itu aku benar-benar takut sampai tidak bisa menikmati acara kembang api. Tepat sebelum aku terisak, di bawah bunga sakura yang baru saja selesai digunakan untuk hanami—kau mencengkram obiku lalu menyodorkan kira-kira 10 ikan koi dalam kantung plastik dan berkata dengan sombongnya:

"Lihat. Aku menangkap lebih banyak dibanding kau, Ran."

Setelahnya kita melihat pohon sakura yang indah itu bersama-sama. Satu hal yang kutahu, kau selalu bisa menemukanku, Shinichi.

Sejak kehilanganmu, aku berusaha jadi orang yang bertindak sebagai seeker—pencari. Bukan selalu jadi pihak yang dicari. Aku mencarimu, tapi kau berkali-kali lebih pintar dibanding diriku, karenanya aku selalu berakhir kalah dalam game hide and seek ini. Petak umpet yang diciptakan takdir untuk kita.

… aku belum pernah menang. Kau dan takdir seakan berafiliasi untuk membuat permainan ini ratusan kali lebih sukar untukku.

Sering aku berakhir dengan airmata karena kesal.

Sebenarnya kau bersembunyi di mana?

Tak hanya kau yang jenius sebagai seeker dalam permainan petak umpet. Conan-kun juga jenius. Jadi jangan angkat dagumu terlalu tinggi sambil mengklaim dirimu yang terbaik.

Dia menemukanku saat aku hampir mati kehabisan nafas waktu ada pembunuhan di sebuah villa. Aku yang ditenggelamkan berhasil selamat karenanya. Saat aku diculik, dia yang membebaskan tali pembebatnya dan mengajakku lari. Dan tak seperti dirimu, dia bukanlah seeker yang sombong. Kata-katanya menghangatkan tubuh dan hatiku setiap satu kasus selesai—seolah menjanjikan bahwa aku tak harus jadi pihak yang dicari lagi.

Betapapun miripnya dia dengan dirimu, kalian tetaplah berbeda.

Dan obsesiku adalah untuk mencarimu, bukan mencarinya. Menemukan Conan-kun adalah pekerjaan yang susah, tapi mencari dirimu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.

Pada akhirnya akulah yang akan selalu dicari. Aku menyerah, Shinichi.

Kali ini aku mengharapkanmu datang dan menyelamatkanku. Kepalaku pusing. Aku tak bisa bergerak. Kalau mendengar suara-suara itu, sebentar lagi St. Aphrodite ini akan tenggelam.

Aku belum memberitahukan pada Grup Detektif Cilik bahwa aku sudah menemukan medalinya. Aku juga belum bertemu lagi denganmu. Aku enggan mati sekarang.

Tapi badanku tak mau kukomando.

"Shinichi… kau akan menemukanku, iya kan?" bahkan aku sendiri menyadari betapa lemah dan putus asanya bisikku. Memantul di dinding besi yang mengurungku.

Maka ketika seberkas sinar masuk, aku begitu lega. Kukira kau yang akan datang—sama seperti waktu kau menemukanku di bawah tangga saat dulu kita bermain petak umpet. Ternyata wajah Ayah… dan Conan-kun yang tersembul.

… ingat, jangan terlalu sering tersenyum sombong Shinichi. Memang benar bahwa kau dan takdir sudah membentuk tim petak umpet yang sempurna. Pandai lari dan melarikan diri. Pandai bersembunyi dan berbohong. Kau kira aku terima saja dibodohi? Sampai sekarang, ketika akhirnya kebenaran terungkap, ingin sekali aku berkata sombong padamu.

"Sekarang aku yang menemukanmu, Detektif, dan kau bersimbah darah. Menyedihkan sekali."

Tapi mulutku tak kuasa mengucapkannya. Lidahku segan melafalkannya. Hanya tangis yang kubiarkan bicara mewakili rasa kesalku. Kenapa selama ini kau harus berbohong?

"Ran…" suaramu membuyarkan lamunanku. Aku memandang wajahmu yang penuh torehan luka—serempetan peluru, darah yang memercik ke mana-mana. Mata birumu menyiratkan kepedihan dan rasa bertanggung jawab. "Kali ini, kau berhasil menemukanku."

Aku tak menyesal kenapa aku harus menemukanmu dalam keadaan begini—yang kusesalkan kenapa waktunya harus sekarang? Kenapa aku harus melihat bagaimana darah itu mengering perlahan sambil menunggu ambulans dan pihak kepolisian datang? Kenapa harus sekarang, setelah kau bertarung dengan organisasi itu, dan aku mendapati kau hampir sekarat? Kenapa harus kenyataan pahit yang bicara sewaktu akhirnya aku berhasil bertindak sebagai seeker?

Keadaan berubah, Shinichi. Ada saatnya mereka yang mencari menjadi mereka yang menemukan. Ada saatnya takdir mengkhianati perjanjiannya denganmu, dan aku akan jadi seeker dalam permainan ini.

Namun lihatlah. Indahnya akhir permainan ini.

Kau menemukanku di masa lalu.

Sementara aku menemukanmu di masa sekarang. Aku bersyukur betapa aku bisa bertahan di permainan ini dan tak terlambat ketika harus menemukanmu.

Akhir yang fair, iya kan?

"Kau masih melamunkan permainan petak umpet itu, yang kita mainkan hampir sepanjang hidup?" aku bisa merasakan bagaimana kau meletakkan dagumu di pundakku dan berbisik di telinga. Di belakang punggungmu ialah ruang makan yang bayangnya menarikku kembali ke kenyataan. Memutus ingatanku akan memori masa lalu. Permainan petak umpet yang kita mainkan selama hampir 20 tahun. Ya, perlu waktu sebegitu panjangnya sampai akhirnya the game is over. "Kenapa malam ini kita tak bermain saja?"

"Mou—" kudorong tubuhmu agar tak berlama-lama di sana. Makan malam takkan bisa cepat siap kalau kau terus-terusan mengganggu. "Jangan bercanda! Aku lelah bermain petak umpet terus!"

"Terserah kau sajalah—" Ups! Kau melingkarkan tanganmu di pinggangku, sementara aku dengan panik mencoba bertahan mengiris wortel.

Aku menyerah. Lagi. Tunduk di bawahmu, Meitantei-san. Tapi jangan pernah lupakan permainan itu dan hasil yang fair di akhir—kita seimbang. Pernah mencari dan dicari. Pernah menemukan dan ditemukan. Lalu jika kau bertanya mengapa semua itu bisa terjadi, aku akan dengan mudah menjawabnya.

Sebab hati dan cinta kita-lah yang akan menuntun.

Kau dan aku. Selamanya… di akhir petak umpet hasil kreasi Sang Takdir.

sumber

Kamis, 22 Juli 2010

Ada DC di Yakitate!! Japan (tahukah anda komik tersebut?)

Yo!

Ketika sedang asyik ngubek-ngubek onemanga.com, gw asik baca Yakitate!! Japan, eh DETECTIVE CONAN NONGOL!!! kenapa bs giitu ya?

Ini gambarnya!

Chapter :
THE REASON FOR BEING AWARDED THE SHOGAKUKAN AWARD MANGA


It's good, huh? Artinya, Conan emang terkenal!

SALUT AMA OM GOSHO! CONAN, MAJU TERUS!!

THE REASON FOR BEING AWARDED THE SHOGAKUKAN AWARD MANGA

Minggu, 18 Juli 2010

Fanfic Ending Conan (yang bagus dan menyentuh, bukan yang ngaco)

Malam.

Gue mau share sebuah fanfic keren buatan kaskuser dg ID , cekidot!


Remnants of the Past - Sisa Masa Lalu
Matahari bersinar terik siang itu, di SMU Teitan. Hari itu hari terakhir mereka sebelum liburan musim panas dimulai. Para guru, meskipun begitu, tetap bertekad memberikan pelajaran sampai bel berbunyi, mengabaikan keluh kesah murid. Ai Haibara memandang keluar melewati jendela kelasnya, pikirannya menerawang ke tempat lain…atau lebih tepatnya, ke waktu tertentu.

Sudah sepuluh tahun berlalu…semenjak hari itu, ya?

-Flashback-

“Conan!!” teriak Ayumi di sampingnya, histeris. Ia memeluk erat-erat gadis kecil itu, demikian juga Genta dan Mitsuhiko. Toh, hanya merekalah yang tersisa dari Grup Detektif Cilik.

Mereka mengamati kobaran api yang terjadi dari kejauhan. Kelak, surat kabar akan melaporkan bagaimana sebuah bekas pabrik minuman keras di pinggiran kota terbakar secara misterius, namun ia tahu yang sebenarnya. Tempat yang disebut-sebut ‘pabrik minuman’ tersebut, tidak lain dan tidak bukan, adalah jalan masuk utama, sekaligus laboratorium milik ‘Kelompok Berjubah Hitam’ – Ai tersenyum ironis, mengutip nama julukan yang dibuat oleh Conan untuk Organisasi.

Karena, Conan tidak kembali lagi dari peristiwa tersebut….

“Hei, di sini berbahaya, ayo pergi!” beberapa orang polisi datang mendekati anak-anak tersebut, hendak mengungsikan mereka ke tempat yang lebih aman. Ai mengenali kedua orang dari mereka. Miwako dan Takagi.

“Tidak!” Ayumi bersikeras, tangannya meremas tanah erat-erat. “Conan…”
Sebuah tangan hangat menggenggam tangan Ayumi, dan gadis kecil itu berbalik, melihat seorang pemuda berusia belasan tahun, dengan tatapan yang entah kenapa, terasa familiar.

“Conan pasti ingin kalian semua selamat.”

Ayumi akhirnya menurut, dan beranjak pergi ke arah mobil polisi, meskipun masih menangis. Dan dia bukan satu-satunya. Seorang gadis berambut hitam panjang, juga menangis menyaksikan kobaran api, dan bersandar di bahu pemuda tersebut.

“Ran, sudahlah...”

“Tapi, Shinichi!” Ran kehabisan kata-kata untuk menggambarkan perasaannya, kehilangan anak laki-laki yang sudah dia anggap adik sendiri. Shinichi sendiri tidak dapat mengatakan apa-apa, meskipun perasaan bersalah terpancar jelas dari wajahnya.

Ai Haibara sama sekali tidak menangis, tentu saja, namun ia mengamati kejadian itu dari kejauhan, dan menyadari betapa ironi mempermainkan mereka.

Hari itu, Conan Edogawa dinyatakan tewas dalam kebakaran. Hari yang sama, Shinichi Kudo muncul kembali ke muka publik, memberikan laporan lengkap mengenai kasus yang ia tangani, terkait Organisasi, kepada kepolisian Jepang dan FBI.
Tentu saja, hanya sedikit sekali orang yang mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

-End of Flashback-

“Ai, hei, Ai!” gadis berambut cokelat itu merasakan sikunya disodok oleh penggaris. Ia menoleh, dan melihat Mitsuhiko nyengir ke arahnya. Anak itu telah tumbuh pesat dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini. Raut mukanya tampak lebih lancip dan dewasa, namun gaya rambutnya masih sama seperti dulu, dan jerawat masih setia menghiasi kedua pipinya.

“Kau tahu kan ini hari apa? Aku sudah menghubungi Genta dan Ayumi, hari ini kita mengadakan peringatan seperti biasa.”

“Ah, ya.”

Terdengar bel berbunyi, dan murid-murid segera berdiri. Ai membutuhkan beberapa waktu untuk membereskan barang-barangnya. Ia agak terkejut, tapi senang, menyadari Mitsuhiko menunggunya di koridor ketika ia keluar.

“Kuperhatikan kau banyak melamun hari ini,” kata Mitsuhiko, ketika mereka berjalan menyusuri koridor. “Apa kau masih memikirkannya?”

“Tidak juga, sudah cukup lama…sudah sepuluh tahun kan? Tapi, seseorang yang berarti bagiku meninggal hari ini, aku hanya sedikit mengenangnya.” Ai berkata ringan.

“Begitu…” Mitsuhiko berkata menatap langit-langit. Mereka berpisah di gerbang sekolah.

“Ah, ada yang harus kukerjakan terlebih dahulu!” Mitsuhiko menatap jam tangannya, “kita berkumpul di rumah Ayumi kelak, ya!” pemuda itu berlari terlebih dahulu. Ai melambaikan tangan.

Ia berjalan sendiri lagi, menyusuri trotoar. Tanpa ada teman mengobrol di sampingnya, pikirannya kembali mengingat beberapa peristiwa lain malam itu, yang menuntun masa depannya menjadi seperti sekarang.

-Flashback-

“Ayah…Ibu…Kakak, semuanya sekarang sudah berakhir,” Ai berkata pada udara kosong, menatap langit cerah di atasnya. Ia sedang berada di balkon, tidak bisa tidur meskipun semua yang telah terjadi hari itu, toh dia juga tidak ingin tidur. Dengan musnahnya organisasi, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bebas, tenang, sama seperti orang-orang lain.

Momen itu terusik ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Shinichi berdiri di sana, bernapas terengah-engah, tampaknya ia baru saja berlari.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ai keheranan.

“Aku mencarimu, tahu! Dengar, aku tidak bisa lama, Ran pasti akan shock kalau aku mendadak hilang lagi, meskipun sebentar, dan kalau bisa, aku tidak ingin polisi mengetahui keberadaanmu di sini.”

“Keberadaanku diketahui polisi?” Ai menyipitkan matanya, meremehkan, “memangnya apa yang polisi akan lakukan padaku? Aku
hanyalah Ai Haibara, anak yatim piatu yang diangkat profesor Agasa, sama sekali tidak ada keterlibatan dengan Organisasi, kecuali sebagai korban mereka. Kecuali kau mau melaporkanku pada mereka, dan untuk itupun, kau tidak punya bukti. Semua obat yang mereka buat, usaha organisasi ‘melawan kematian’, percobaan mereka terhadap manusia, itupun sudah musnah dalam kebakaran beberapa jam yang lalu. Demikian juga dengan Conan Edogawa,” Ai menambahkan, tersenyum menyindir, “jadi apa yang kau- “

Kata-katanya terhenti saat Shinchi menyerahkan cairan berwarna perak kehijauan ke arahnya dalam botol kaca kecil. Matanya terbelalak.

“Itu…dari mana kau dapatkan?”

“Beruntung bagimu. Aku masih sempat menyimpan satu cadangan. Vermouth menghancurkan ratusan lainnya, sebelum dia tewas. Ini untukmu, Shiho Miyano.” Ujar Shinichi, memanggil Ai dengan nama aslinya.

Ai menerima botol tersebut. Pikiran-pikiran berkelebat dalam dirinya. Bagaimana Ayumi menangis karena kehilangan Conan. Bagaimana Genta dan Mitsuhiko juga tampak terpukul. Hari-hari normal yang mereka jalani bersama sebagai ‘Grup Detektif Cilik’. Lalu, kehidupannya di masa lalu. Bagaimana ia tidak pernah mengenal ibunya, bahkan ayahnya pun selalu bersikap dingin terhadapnya, meskipun ia tahu itu demi keselamatannya sendiri. Bagaimana kakaknya, selalu berusaha bersikap ceria di depannya namun diam-diam menjalankan misi rahasia untuk membebaskan dirinya dari Organisasi, dan akhirnya terbunuh. Bahkan sebagai anak kecil, takdirnya telah ditentukan oleh Organisasi saat mereka menyadari ia memiliki bakat yang tidak dimiliki kakaknya, dan ia tidak punya pilihan lain kecuali melayani Organisasi seumur hidup. Kemudian, sesudah meminum obat itu, ia bertemu Conan. Ia bertemu Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko, dan berkesempatan mengulang kembali, bagaimana rasanya menjadi anak-anak yang normal, tanpa ketakutan….

PRANG! Ai melemparkan botol tersebut keluar jendela, dan benda itu jatuh berkeping-keping di atas tanah. Shinichi memandangnya tidak percaya.

“Kau….”

“Conan Edogawa sudah mati hari ini, demikian juga Shiho Miyano. Yang tersisa adalah Shinichi Kudo dan Ai Haibara.” Gadis berambut cokelat itu tersenyum, ekspresinya penuh keyakinan.

Shinichi memandangnya, balas tersenyum, “jadi ini pilihanmu? Kalau begitu, selamat mengerjakan tugas-tugas anak SD.” Ia berkata sambil bercanda.

“Aku akan berusaha supaya tidak terlalu menonjol di kelas,” kata Ai. “Anak-anak itu sudah kehilangan kau, tahu, aku tidak akan membiarkan mereka kehilangan seorang lagi.”

“Kalau begitu, tolong jaga mereka. Mereka bisa menjadi detektif…suatu hari kelak.” Shinichi berpesan seraya melambaikan tangan dari balik pintu.

“Shinichi,” kata Ai untuk terakhir kalinya. Detektif tersebut menoleh.

“Kau dan Ran…semoga beruntung. Sampaikan salamku untuknya.”
Shinichi mengangguk, dan bergegas pergi. Ai kembali berjalan ke balkon, dan berkata menghadap langit.

Ayah…Ibu…Kakak…

“Maaf ya, aku tidak bisa memakai nama pemberian kalian. Tapi kali ini aku memiliki kesempatan kedua. Aku akan bisa memenuhi permintaan kalian, untuk hidup dengan baik…dan normal…Tapi aku takkan melupakan kalian. Terima kasih.”

Shiho Miyano, atau lebih tepatnya, Ai Haibara, mengelap bagian sudut matanya yang basah, sebelum kembali ke dalam kamarnya.

-End of flashback-

Tanpa terasa, gadis berambut cokelat tersebut telah tiba di depan rumah. Rumah bercat putih yang familiar. Dia tidak mengetok pintu tentu saja, toh dia tinggal sendiri di situ. Semenjak kematian Profesor Agasa beberapa tahun lalu, ia mendapatkan rumah tersebut. Rumah itu menyisakan banyak kenangan untuknya. Mobil van lama milik Profesor masih tersisa di garasi, meskipun tidak ada yang mengemudikannya, Ai tidak berminat menjualnya dalam waktu dekat. Dia baru hendak membuka pintu, ketika, terdengar seseorang meloncati pagarnya.

“Aduh!” teriak anak laki-laki kecil tersebut, tampaknya ia tidak mengira bahwa ia akan mendarat di atas semak-semak. Anak itu terperanjat melihat Ai, tidak menyangka akan tertangkap basah.

“Wah wah wah…Conan, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Ai pada anak berusia 7 tahun tersebut.

“Aku sedang bersembunyi, Kak, tolong sembunyikan aku-“

“Tolong tangkap dia!” terdengar suara seorang wanita berkata. Ai menoleh, dan menyaksikan Ran Kudo – seorang wanita berusia 27 tahun, ibu rumah tangga, sekaligus juga tetangga sebelah rumah. Anak laki-laki itu bersembunyi di balik badan Ai.

“Aku tidak mau, Ibu menyeramkan!” teriak anak bernama Conan tersebut. Ran, bagaimanapun, berhasil menangkapnya.

“Kau nakal sekali sih!” omel Ran pada anak tersebut, dan kemudian berpaling, meminta maaf pada Ai. “Maaf, anak ini mengganggu.”

“Tidak apa-apa,” kata Ai tersenyum, melihat anak dan ibu tersebut. Conan Kudo, demikian nama anak tersebut, anak tunggal dari pasangan Shinichi dan Ran, benar-benar mewarisi nama yang diberikan padanya. Wajahnya mirip dengan Shinichi sewaktu kecil, tentu saja, namun ia memiliki kelainan pada matanya yang menyebabkan ia harus selalu memakai kacamata. Entah apa yang ada di pikiran Shinchi saat memberinya nama, batin Ai dalam hati. Orang yang mengenali Conan Edogawa, sepuluh tahun yang lalu, semuanya berkata bahwa anak ini benar-benar menyerupai anak tersebut, seolah terlahir kembali.

“Ran! Conan! Kalian di sini?” terdengar suara pria bertanya. Dari balik pagar pembatas kedua rumah, kemudian, terlihat kepala Shinichi menyembul.

“Ayah!”

“Shinichi… bukannya kau ada pekerjaan?” tanya Ran.

“Oh, kasus itu kuserahkan pada polisi, hari ini aku memutuskan pulang cepat.” Ujar Shinichi. Penampilannya tidak berubah semenjak sepuluh tahun lalu, kecuali raut mukanya bertambah dewasa.

“Hari ini ada peringatan, kan?” Shinichi bertanya pada Ai, “kalian juga akan ke sana?”

“Yah, aku akan ke tempat Ayumi, rencananya,” Kata Ai, “kalau ingin pergi, lebih baik kita pergi bersama-sama saja.”

“Peringatan?” tanya Conan, tidak mengerti.

“Iya, kurasa sebaiknya kita ikut pergi, Conan juga ikut.” kata Ran, melupakan
kemarahannya pada anak tersebut.

“…?”Conan hanya kebingungan sendiri.

-xxx-
Di atas bus, sejam kemudian.

“Aku tidak menyangka kalian juga akan ikut,” kata Ayumi, kepada keluarga Kudo, “untunglah Ai mengajak kalian!”

Penampilan Ayumi telah berubah dalam sepuluh tahun terakhir ini. Ia memanjangkan rambutnya, dan mengikatnya di belakang seperti ekor kuda. Tubuhnya juga tampak lebih atletis, karena ia mengikuti estrakurikuler tenis di sekolahnya. Di sampingnya duduk Genta, yang juga teman sekelasnya. Genta tidak lagi gemuk seperti dulu, tubuhnya tetap besar, namun berotot, sebagai hasil dari kegiatan judo yang dia lakukan secara rutin.

“Apa boleh buat, bagiku Conan sudah seperti adik sendiri… meskipun, aku tidak bisa selalu memperingati peristiwa ini tiap tahun. Ia beruntung punya teman-teman seperti kalian.” Kata Ran.

“Eh, kakak,” tanya Conan kepada Genta yang duduk di sebelahnya, “kenapa mereka menyebut-nyebut namaku segala?”

“Oh iya, Conan belum tahu ya?” tanya Ayumi, mengelus kepala anak kecil tersebut, “kau itu diberi nama sesuai dengan teman kami, salah seorang anggota ‘Grup Detektif’.”

“Lalu?” tanya Conan polos, “di mana dia sekarang?”

Ayumi tidak menjawab pertanyaan tersebut, melainkan tersenyum,
pandangannya menerawang.

“Kita akan mengunjunginya…sekarang.”

Untuk anak seusianya, Conan tergolong anak yang cerdas. Ia mengambil
kesimpulan apa yang terjadi, dan tidak bertanya sepanjang perjalanan tersebut.

Di bagian belakang bus, Mitsuhiko duduk bersebelahan dengan Ai, yang memandang jendela dengan ekspresi bosan.

“Ayumi masih memikirkannya juga, ya…” ujarnya, memulai pembicaraan.

“Si bodoh itu,” kata Ai, pandangannya tidak beranjak dari jendela. Namun ia sengaja mengeraskan suaranya, karena ia tahu, Shinichi, yang hanya berjarak beberapa bangku dari mereka, pasti dapat mendengarnya, “mati begitu saja…tidak memikirkan orang-orang yang dia tinggalkan….”

“Hei…” Mitsuhiko menegurnya, “aku yakin, sebenarnya Conan juga tidak ingin meninggalkan kita, sesekali bersikap baiklah padanya, toh dia sudah mati.”

Kau tidak tahu yang sebenarnya kan, Mitsuhiko? Ai tidak berkata apa-apa.

-xxx-
“Jadi di sini?”

Mereka berada di tengah-tengah tempat terpencil di pinggiran kota. Untuk sampai ke sana, memakan waktu lima belas menit berjalan kaki dari pemberhentian bus terakhir.

Di sana, di tengah-tengah rerumputan yang berdiri liar, dan reruntuhan bekas pabrik, terdapat sebuah makam kecil bertuliskan ‘Conan Edogawa’.

“Benar. Kami selalu berkunjung ke sini setiap tahun.” Kata Ayumi, “dia teman kami, sangat pemberani, sangat cerdas… dia meninggal karena terlibat kasus. Dia sangat mirip denganmu…”

Ai memandang sekilas pada Ayumi, yang menceritakan kisah tersebut pada Conan. Genta dan Mitsuhiko bergantian memberi bunga, demikian juga Ran, yang berlama-lama di depan makam tersebut. Ia memandang ke arah Shinichi, yang sama seperti dirinya, memiliki alasan berbeda untuk berada di sini. Bagi Shinichi, hari ini mungkin hari bersejarah baginya, di mana ia berhasil menumpas Organisasi. Meskipun begitu, raut mukanya masih mencerminkan rasa bersalah setiap kali melihat makam tersebut, dan hal itu cukup membuat Ai puas. Dia sendiri memiliki alasan berbeda untuk berada di sini.

“Ng? Ai, kau mau ke mana?”

“Berjalan-jalan sebentar.” Ujar gadis berambut cokelat tersebut,” aku akan segera kembali.”

Ai berjalan mendekati reruntuhan pabrik tersebut, semakin jauh ke dalam.

“…seseorang yang berarti bagiku meninggal hari ini,” demikian kata-katanya pada Mitsuhiko, dan dia tidak berbohong.

-Flashback-
“Shuichi. Shuichi!” teriak Ai, menggoncangkan tubuh agen tersebut. Tubuh pria tersebut tergeletak di lantai, darah mengalir keluar darinya.

“Shiho. Cepat keluar, pabrik ini akan segera terbakar.” Kata pria tersebut pelan.

“Bagaimana denganmu?” tanya Shiho Miyano.

“Sudah terlambat. Gin berhasil mengenaiku, sisi baiknya, dia juga terbunuh. Di sekitar tempat ini, tidak ada rumah sakit…bahkan kalau aku berhasil keluar dari tempat ini, semuanya sudah terlambat.” Suara Shuichi melemah, dan ia memejamkan mata. “Lagipula, aku tidak punya penyesalan. Dendam kakakmu berhasil dibalaskan, kan?”

“Shuichi…” Shiho merasakan kata-katanya tertahan, ketika tangan pria itu mengusap rambutnya.

“Kau sama saja dengan kakakmu, mencemaskan orang lain. Dunia tidak adil, kalian berdua hanya menjadi korban… baik kau maupun kakakmu, seharusnya berhak mendapatkan kesempatan… kehidupan yang lebih baik. Aku tidak bisa menyelamatkannya… tapi dia pasti ingin kau selamat. Pergilah.”

Shiho menyaksikan untuk beberapa saat, dengan perasaan horor, ketika tubuh tangan Shuichi terkulai lemas, dan tubuhnya berhenti bergerak. Air mata mengaliri wajahnya. Dengan segera, ia bangkit berdiri, berlari menuju pintu keluar seperti yang diminta, tanpa sedikitpun berbalik ke belakang.

-End of Flashback-
“Jika bukan karenamu…aku tidak akan berada di sini sekarang. Terima kasih,”

Ai meletakkan sekuntum bunga di reruntuhan tersebut.
-xxx-
Langit sudah semakin senja, dan burung-burung beterbangan kembali ke sarang mereka masing-masing. Ai masih belum kembali.

“Ai lama sekali,” kata Ayumi, “bus terakhir akan berangkat tidak lama lagi, bagaimana kalau terlewat?”

“Akan kucari dia,” Mitsuhiko menawarkan diri. Sebelum teman-temannya sempat memprotes, ia sudah beranjak pergi terlebih dahulu, meskipun, dia tidak punya ide ke mana harus mencari gadis berambut cokelat tersebut.

Ai Haibara. Gadis itu selalu ‘menghilang’ setiap kali mereka melakukan kunjungan ke makam Conan, meskipun kembali tidak lama kemudian, tanpa memberitahu yang sebenarnya dia lakukan. Jika Ayumi atau Genta terkadang bertanya, ia selalu memberikan jawaban sekenanya. Mitsuhiko mengenalinya semenjak kecil, dan gadis itu selalu dipenuhi rahasia. Dia selalu tampak tenang, dewasa, dan misterius…

Kematian Conan pasti sangat mempengaruhinya, soalnya mereka berdua sama-sama terlibat kasus tersebut, pikir Mitsuhiko. Tidak seperti Ayumi yang terang-terangan tampak sedih, atau Genta yang marah… Ai tampak seolah tidak terpengaruh. Malah, semenjak kematian Conan, ia menjadi lebih terbuka, lebih riang terhadap mereka, seolah-olah membuat mereka melupakan peristiwa tersebut.

Kenapa dia selalu merahasiakan semuanya dari kami? Batin Mitsuhiko. Ia berjalan mendekati reruntuhan, dan pemandangan yang dia saksikan membuat ia melupakan semua pikirannya sebelumnya.

Gadis berambut cokelat itu berdiri di tengah-tengah reruntuhan, wajahnya menengadah menatap langit senja, rambutnya berkibar di tiup angin. Pemuda tersebut merasakan dadanya berdesir. Ai selalu terlihat seperti itu… Menjaga jarak dan sendiri, kesepian… dan hal itulah yang membuatnya sangat tertarik padanya. Dia kelihatannya butuh teman tempat berbagi, dan Mitsuhiko dengan senang hati bersedia melakukan itu untuknya.

Menyadari sedang diawasi, Ai menoleh tepat ke arah pemuda tersebut. Mitsuhiko salah tingkah, dia tidak bisa berpura-pura tidak berada di situ, meskipun ia yakin Ai tidak suka privasinya diganggu. Pada akhirnya ia hanya berseru.

“Ai! Kami mencarimu, sudah waktunya pulang!”

Gadis tersebut mengikutinya tanpa berkata sepatah kata, dan mereka berdua berjalan bersama menuju ke tempat semula.

“Ai,” tanya Mitsuhiko akhirnya,”sebenarnya, apa yang kau lakukan di sana?”

“Mengunjungi makam,” jawab Ai singkat, dan jujur. Mitsuhiko tidak bertanya lebih jauh.

Mereka akhirnya sampai ke tempat semula, di mana yang lain sudah menunggu. Perjalanan kembali ke terminal berlangsung singkat. Tanpa terasa, mereka sudah berada kembali di atas bus, dalam perjalanan pulang menuju ke rumah.

Ai melihat sekilas dari jendela, reruntuhan pabrik di kejauhan tampak mengecil, sebelum menghilang di kejauhan, tidak lebih dari sisa-sisa masa lalu yang dia tinggalkan, namun akan selalu tetap berada di sana…

Gadis itu memejamkan matanya, merasa damai, dan tertidur tidak lama kemudian. Kepalanya bersandar ke bahu seseorang di sebelahnya. Ayumi yang melihat pemadangan tersebut, tidak membuang kesempatan untuk memfoto mereka berdua.

Ai dan Mitsuhiko, tertidur di bagian belakang bus, kepala mereka saling bersandar satu sama lain.

Bus meluncur dengan tenang sepanjang perjalanan malam itu.

-END-
 
Bagus kan? Ending yg keren bgt!



 



Chapter 741 - Kenangan VHS, 742 - Pesan yang tersimpan selama 13 tahun, Episode 580 - The Black Time Limit Drawing Near

 Waktu gw baca salah satu blog tentang Jepang, ditulis mahasiswa Indonesia yg belajar di sana Semua Tentang Jepang , dipaparkan kalo dimata orang Jepang, Indonesia itu NGARET BGT. (yg harus gw akui, krn gw salah satunya. Pokoknya, bukan Indonesia kalo gak ngaret).

Kenapa gw ngebahas tentang terlambat??
Karena chapter ini 1 minggu terlambat dari waktu yang dijanjikan. Padahal mereka kan orang Jepang, huhuhu.

Daripada gw ngebacot lbh banyak, ini dia sinopsisnya!!
Kenangan VHS : indInspektur Shiratori n Opsir Chiba, pergi ke SD Teitan untuk menyerahkan video anti penculikkan ke Bu Kobayashi. Chiba, yang alumnus SD Teitan pun keliling sekolah untuk bernostagia.

Bu Kobayashi meminta bantuan Conan dkk untuk mencari video (or anything like that) lalu mereka ke ruangan audio. Disana mereka bertemu Chiba, yang ternyata mencari balasan surat cinta pertamanya (ihiy!)
Conan beranalisis, tapi analisisnya salah!

Solusi - Chapter 742

Kenapa bisa salah? Ada apa ini??? Baca aja sendiri, dengan banyak ekspresi dodol di chapter ini yg bikin ngakak. Versi indonya blm out, kalo nanti udah gw update.

Cekidot!

--------------

For Video! Check here!







or link
Part1
Part2
Part3

Check it out!

Selasa, 13 Juli 2010

MEITANTEI CONAN CHARACTER - MOURI KOGORO

Yoyoyo!



DC Character = MOURI KOGORO

Nama =
Romaji : Mouri Kogoro
Kanji : 毛利 小五郎
Umur = 37 tahun
Gol. darah = B
Pekerjaan = Detektif dodol
Alamat = Beika Street distrik 5
Menyukai = Wanita, uang, sake, judo
Tidak suka = repot, Eri (sebenernya suka tapi malu malu kambing), kucing
Warna favorit = Abu-abu
 
Kogoro Mouri adalah ayah dari Ran Mouri (post sebelumnya), seorang detektif swasta yang terkenal karena akhir akhir ini sering memecahkan kasus, walaupun sih  sebenernya Shinichi (Conan)-lah yang memecahkan kasus (pakai peluru bius, CIUT! analisis pun dimulai). Sebagai "om-om mesum" (itu kata2 wikipedia, wakakakak), Kogoro ahli dalam Judo sementara istrinya Kisaki Eri, adalah seorang pengacara yang sukses, gak kayak suaminya yang dodol bin ajaib. Kogoropisah dengan istrinya dan hidup berdua dengan anak perempuannya, Ran Mouri. Kogoro juga disebut pembawa sial (oleh kepolisian)/ kogoro tidur karena dimana ada dia selalu ada kasus dan dia selalu memecahkan masalah sambil tidur karena ditembak peluru bius oleh Conan.
Sebelum jadi detektif swasta, dia adalah seorang polisi yang handal (menurut Prof. Agasa) bawahan Inspektur Megure.  Lalu, ia dipecat karena telah membahayakan nyawa sandera, alias sang istri pada suatu kasus. Setelahnya Eri meninggalkannya karena diejek Kogoro (timpuk dia, kawan) dan menjadi detektif swasta dodol bin ajaib yang analisisnya suka ngawur. Tapi juga ada saat saat dimana ia cerdas sekali. Kelihatannya galak ama Conan, tapi aslinya sih dia gak mau kalo Conan terlibat bahaya n suka ngeliat mayat gitu.

Minggu, 11 Juli 2010

MEITANTEI CONAN CHARACTER = MOURI RAN

Dengan segala macam perubahan dan kemajuan blog ini, kami berterima kasih kepada para pembaca, karena kalau gak ada kalian blog ini hanyalah blog sampah. Arigatou Gozaimasu!



DC Character : MOURI RAN
Nama =
Romaji : Mouri Ran
Kanji : 毛利 蘭
Tanggal lahir = 10 Oktober
Umur = 17 tahun (dari thn '94 gak naik naik, heran dah)
Gol. darah = B
Sekolah = SMA Teitan
Alamat = Beika Street distrik 5
Menyukai = Karate, Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga,
Tidak suka = Shinichi selingkuh (ini info dr SDB!! bukan gw yang nulis)
Warna favorit = Merah
Orang tua = Mouri Kogoro (毛利 小五郎) dan Kisaki Eri (妃 英里)
Ran adalah teman sejak kecil Shinichi, bahkan terkadang disebut sebagai kekasihnya. Tapi mereka bilang sih nggak, dengan muka merah meheheh. Ketika tinggal di rumah Ran, Conan (Shinichi) sering dicurigai oleh Ran, bahwa Conan itu sebenarnya adalah Shinichi yang mengecil setelah meminum obat buatan Profesor Agasa karena terlibat dalam suatu kasus, meski setelah mencurigai, Ran selalu menarik rasa curiganya. Cita- cita Ran adalah menjadi ahli karate di seluruh Jepang. Ran memiliki sifat yang lembut, namun kadang-kadang juga memiliki sifat keras hati. Ia gampang menangis, apalagi bila sedang teringat akan Shinichi. Terkadang suka membayangkan hal-hal yang gak jelas seperti "Shinichi-bersama-wanita-lain" atau sejenisnya. 

PS : Ada isu yang mengatakan bahwa selama libur seminggu kemarin, om Gosho membawa Detektif Conan ke Interpol. Berikut pembicaraan Admin1 dg CarpetCrawlerDC
Carpet : So the rumors are that Gosho is finally bringing the Interpol to Detective Conan...        interesting.
admin1 : eeeh? seriously?
Carpet : Yep, that's apparently why he was out for a few weeks to "gather data". Of course, let's not forget that it's merely a rumor.

Benar atau tidak, kita hanya bs menunggu. Pertanyaan gw adalah : Buat apaan yak Om Gosho bawa bawa DC ke Interpol??

Followers